Wednesday, 25 July 2012

Pemakaman Rasulullah

 KAFAN DAN PERSEMADIAN JASAD MULIA BAGINDA KE PEMBARINGAN TERAKHIR

Telah timbul perselisihan pendapat di antara para sahabat sebelum urusan perkafanan
mengenai persoalan khalifah. Berlakulah perbahasan dan perdebatan di antara kaum Muhajirin
dan al-Ansar di halaman rumah Banu Sa'adah yang mana akhirnya mereka semua bersetuju
melantik Abu Bakr sebagai khalifah Rasulullah. Perbahasan ini memakan masa hingga ke akhir
hari Isnin, malah hingga masuk ke malam berikut menyebabkan orang ramai turut sibuk.
Pengkembumian jasad Baginda tertangguh hingga ke malam Selasa malah hingga menjelang
subuh hari berikut, di mana jasad Rasulullah yang penuh berkat itu terletak di tempat tidurnya,
tertutup dengan kain menyebabkan ahli keluarga Baginda menutup pintu rumah.
Di hari Selasa barulah diuruskan mandi jasad Rasulullah (s.a.w) tanpa membuka bajunya,
mereka yang bertugas memandikan Baginda ialah al-Abbas, Ali, al-Fadhl dan Qatham(keduadua
anak al-Abbas), Syaqran(hamba Rasulullah), Usamah bin Zaid dan Aws bin Khawli. Abbas,
al-Fadhl dan Qatham membalikkan badan Rasulullah, Usamah dan Syaqran menjiruskan air, Ali
menggosoknya sedang Aws pula menyandarkan Rasulullah ke dadanya. Kemudian mereka
semua mengkafanki'n jasad Rasulullah (s.a.w) di dalam tiga lapis kain kafan berwarna putih
tenunan dari al-Yaman, tidak berbaju atau berserban. Dikafannya jasad Rasulullah (s.a.w) ke
dalam ketiga-tiga lapisan kain kafan tadi dengan cermat dan penuh hemat.
Di saat pekebumian sekali lagi kaum muslimin berikhtilaf tempat persemadiannya, namun
kesudahannya Abu Bakr bangun dan berkata: "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah
(s.a.w) pernah berkata: Tidak dimatikan mana-mana nabi kecuali di tempat itulah ia
disemadikan". Justeru itu maka Abu Talhah pun mengangkat tempat tidur Rasulullah (s.a.w)
dan digalinya lubang sebagai kubur berliang lahad.
Sebelum itu kaum muslimin masuk membanjiri bilik Rasulullah (s.a.w) dengan bertali arus
sepuluh selepas sepuluh, menunaikan solat jenazah, masing-masing tanpa imam. Mula-mula
sekali Baginda disembahyangi oleh keluarga Baginda, kemudian Muhajirin diikuti oleh al-Ansar.
Kaum wanita bersembahyang selepas kaum lelaki diakhiri oleh lapisan kanak-kanak.
Kesemuanya ini diselenggarakan pada hari selasa sehari suntuk, malah hingga ke malam Rabu.
Kata Aisyah: "Kami bagaikan tidak menyedari pengkebumian kecuali setelah kami terdengar
suara cangkul menggali tanah di tengah malam yakni malam Rabu.
MUHAMMAD SALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM NABI YANG TERAKHIR

»»  Lanjutkan Baca...

Sikap Para Sahabat Atas Wafatnya Rasul

Sikap Umar radhiyallahu 'anhu
 
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata:”Sesungguhnya beberapa orang dari kaum munafiq beranggapan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tela wafat! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu tidak mati, akan tetapi beliau pergi menemui Rabb/Tuhannya sebagaimana Musa 'alaihissalam pergi mengahadap Rabbnya, ia pergi meninggalkan kaumnya selama 40 hari, kemudian akan kembali lagi kepada mereka setelah sebelumnya dikabarkan telah mati. Demi Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam benar-benar akan kembali sungguh dia akan memotong tangan dan kaki mereka yang menganggap bahwa beliau telah mati.”(Ibnu Hisyam II/655)

Sikap Abu Bakar radhiyallahu 'anhu

 
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang dengan menunggang kuda dari tempat tinggalnya di kampung Sanah, kemudian ia turun dan masuk ke dalam masjid, ia tidak berbicara kepada mereka yang hadir, hingga masuk ke bilik ‘Aisyah radhiyallahu 'anha dan menuju ke tempat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang ditutupi dengan kain lebar. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membuka wajah beliau, kemudian menundukkan kepala kepadanya, lalu menciumnya dan menangis. Selanjutnya ia berkata:”Ayah dan ibuku, sebagai tebusan bagimu Allah tidak akan menyatukan padamu dua kematian, adapu kematian yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu telah engkau alami.”
Kemudian Abu Bakar radhiyallahu 'anhu keluar, sedangkan Umar tengah berbicara dengan orang-orang yang hadir di masjid, Abu Bakar berkata:”Duduklah wahai Umar!” Akan tetapi Umar tidak mau duduk. Kemudian Abu Bakar membaca kalimat syahadat, sehigga orang-orang mengerumuninya dan meninggalkan Umar radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata:”Amma ba’du, barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya beliau telah mati! Dan barang siapa di antara kalian yang menyembah Allah sesungguhnya Allah itu Maha hidup dan tidak akan mati. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولُُ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ {144}
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS.Ali-Imran:144)
Ibnu ’Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Demi Allah! Sungguh seakan-akan para Sahabat pada pada saat itu tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, kecuali setelah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membacanya, kemudian semua orang mendengarnya dari Abu Bakar, dan aku tidak mendengar seorang pun dari manusia kecuali ia membacanya."
Ibnul Musayyib rahimahullah berkata, Umar radhiyallahu 'anhu berkata:”Demi Allah! Tidaklah aku mendengar Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membacanya, kecuali aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku, kemudian aku terjatuh ke tanah pada saat ia membacanya, pada saat itu baru aku menyadari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah wafat.”

Mempersiapkan dan Melepas Kepergian Jasad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Yang Mulia


Telah terjadi perselisihan dalam masalah kekhilafahan, sebelum mereka, para Sahabat radhiyallahu'anhum mengurus jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga berlangsung dialog, diskusi, perdebatan antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah kebun Bani Saa’idah, dan akhrinya mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu sebagai kahalifah. Dan hal ini berlangsung sepanjang hari senin hingga masuk waktu malam, kemudian mereka sibuk mengurusi jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hingga akhir malam (malam selasa) mendekati shubuh jasad beliau yang diberkahi masih berada di kasur tertutup kain, dan pintunya ditutup bagi orang lain kecuali keluarganya.
Hari selasa mereka memandikan beliau tanpa melepas pakaianny, orang-orang yang memandikannya adalah Al-‘Abbas, Ali, al-FAdhl bin al-Abbas, Qutsm bin al-Abbas, Syaqran budak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Usamah bin Zaid dan Aus bin Khouli radhiyallahu'anhum. Al-Abbas, al-Fadhl dan Qutsm yang membalik jasad belau, sedangkan Usamah dan Syaqran yang menyiramkan airnya, sedang Ali yang membasuhnya dan Aus yang menyandarkan beliau ke dadanya.
Beliau dibasuh dengan air dan bidara tiga kali basuhan, dan dimandikan dengan air dari sebuah sumur yang bernama al-Ghars milik Sa’d bin Haitsamah di Kuba’ yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah meminum air dari sumur tersebut.(lihat Thabaqat Ibnu Sa’d II/277-281)
Kemudian mereka mengkafaninya dengan tiga helai kain tenunan Yaman. Kain itu berwarna putih, terbuat dari katun, tanpa baju dan surban. Mereka memakaikan kafan tersebut kepada beliau satu persatu secara berlapis.

Mereka bersellisih tentang tempat pemakamannya, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata:”Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Tidaklah seorang Nabi wafat, kecuali dikubur di tempat ia wafat.” Maka Abu Thalhah mengangkat kasur yang dipakai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada saat meninggal, kemudian ia menggali tanah yang ada di bawahnya, dan membentuk liang lahad.
Orang-orang memasuki kamar secara bergantian sepuluh-sepuluh. Mereka menshalatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara sendiri-sendiri tanpa ada seorang pun yang mengimami mereka. Pertama kali yangmenshalatka adalah keluargany, kemudian orang-orang Muhajirin, setelah itu orang-orang Anshar. Para wanita menshalatkannya setelah kaum pria, setelah itu anak-anak kecil, atau anak-anak kecil dahulu kemudian para wanita.
Hal itu berlangsung pada hari selasa dan terus berlaluhingga tiba malam Rabu, ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:”Kami tidak mengetahui berlangsungnya pemakaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecual setelah kami mendengar suara cangkul di tengah malam.”Di dalam sebuah riwayat disebutkan "pada akhir malam Rabu."





»»  Lanjutkan Baca...

Detik-Detik Wafatnya Rasul Bag 3

AKHIRNYA DETIK-DETIK KEMATIAN MENGAHAMPIRI

Hari Ahad, sehari sebelum wafat, beliau memerdekakan budak-budaknya, dan bersedekah dengan enam atau tujuh dinar yang dimilikinya serta memberikan senjata-senjatanya kepada kaum Muslimin. Di malam harinya ‘Aisyah radhiyallahu 'anha membawa lampunya kepada kepada seorang tetanggaperempuan. ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata kepadanya:”Berikanlah kepada kami sedikit dari minyak yang kamu miliki pada lampu kami ini.”
Baju besi beliau pada saat itu masih tergadaikan kepada orang Yahudi dengan harga tiga puluh sha’ (takaran) gandum.(HR. al-Bukhari hadits ke 2068,2096,2251 dll)

Hari Terakhir

 
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa pada saat kaum Muslimin shalat shubuh –pada hari senin dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menjadi imam mereka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara tiba-tiba mengagetkan mereka dengan membuka tirai kamar ‘Aisyah untuk melihat mereka, sedangkan mereka berada pada barisan (shaf) shalat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersenyum tertawa, maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun mundur ke belakang untuk bergabung dengan shaf, karena mengira bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin keluar untuk menunaikan shalat. Anas radhiyallahu 'anhu berkata:”Hampir saja kaum Muslimin tergoda (hingga membatalkan shalat) karena bahagia dengan munculnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat denga telunjuknya kepada mereka agar menyempurnakan shalat. Setela itu, beliau masuk ke kamar dan menurunkan/menutup tirainya. (HR.al-Bukhari bab Sakitnya Nabi II/640). Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mendapati lagi waktu shalat yang berikutnya.
Ketika beranjak waktu Dhuha, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Fathimah radhiyallahu 'anha, kemudian membisikkan kepadanya sesuatu, dan ia pun menangis.Kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu yang lainnya, ia pun tertawa. ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,’Kami menanyakan (kepada Fathimah) tentang hal itu, yakni pada hari-hari berikutnya, dan Fathiman radhiyallahu 'anha menjawab:”Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan keapadaku bahwa bwliau akan meninggal dunia pada sakit yang beliau derita [pada saat itu, sehingga aku menangis, dan membisikkan kepadaku bahwa aku yang pertama kali dari keluarganya yang mengikutinya (meninggal) sehingga aku tertawa.”(HR.al-Bukhari II/638). Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada Fathimah radhiyallahu 'anha bahwa ia adalah penghulu para wanita di dunia. (Riwayat lain menyebutkan bahwa dialog dan kabar gembira tersebut terjadi bukan pada har terakhir hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi terjadi pada minggu terakhir. Rahmah lil ‘Alamin I/282)
Fathimah telah melihat penderitaan berat yang tengah dialami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia berkata:”Betapa menderitanya Engkau wahai ayahku.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:”Tidak ada cobaan lagi yang akan menimpa ayahmu setelah hari ini.” (HR.Bukhari II/641)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggil al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu'anhuma, kemudian mencium keduanya dan berwasiat kepada mereka untuk selalu berbuat baik. Selanjutnya beliau memanggil istri-istri beliau kemudian menasehati mereka dan mengingatkan mereka.
Penyakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah dan bertambah berat, dan muncul (pada tubuhnya) pengaruh racun yang pernah beliau makan pada saat perang Khaibar (yaitu racun yang dimasukkan ke dalam daging kambing yang diberikan kepada baliau), dan beliau berkata:”Wahai ‘Aisyah! Aku masih merasakan sakit (akibat racun) makanan yang aku makan pada saat perang Khaibar, sehingga pada saat ini aku merasakan urat nadiku terputus karena racun tersebut.”
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menutupkan pakaiannya ke wajahnya, kemudian membukanya kembali dan berkata di mana ini merupakan akhir perkataan dan wasiat yang disampaikannya kepada manusia:”Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasharani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” beliau mengingatkan akan sesatnya perbuatan mereka,”Tidak boleh ada dua agama di bumi Arab ini.”Kemudian beliau berwasiat kepada manusia, seraya berkata:”Jagalah shalat! Jagalah shalat!, dan budak-budak kalian (jangan sekali-kali kalian abaikan).” Beliau mengulang-ulangnya hingga beberapa kali.

Detik-Detik Kematian

 
Detik-detik kematian telah tiba, ‘Aisyah radhiyallahu 'anha menyandarkan tubuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya, ia berkata:”Termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dinerikan kepadaku, adalah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat di rumahku, di antara paru-paruku dan tanggorokanku, Allah mengumpulkan antara ludahku dan ludahnya pada saat kematiannya. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk, di tangannya ada sepotong siwak, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersandar pada tubuhku, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandang siwak tersebut dan aku tahu bahwa ia menyukai siwak, aku berkata kepadanya:”Maukah aku ambilkan untukmu?.” Beliau menganggukkan kepalanya bertanda mengiyakan, kemudian aku berikan siwak tersebut kepadanya, akan tetapi siwak tersebut sangat keras baginya, sehingga aku bertanya kepadanya:”Maukah aku lunakkan untukmu?”Beliau mengisyaratkan dengan kepalanya bertanda mengiyakan, maka aku pun melunakkannya, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggosokannya pada giginya. Di dalam sebuah riwayat lainnya disebutkan, bahwa beliau bersiwak dengan sebaik-baiknya sebagaimana kita lakukan. Di depan beliau ada sebuah bejana berisi air, lalu beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air tersebut kemudian mengusapkannya ke wajahnya kemudian berkata:”Laa ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.”(HR. al-Bukhari, Shahih Bukhari bab Sakitnya Nabi II/640)
Tak berapa lama selesai bersiwak, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tangan atau jarinya dan menatapkan pandangannya kea tap, kedua bibirnya bergerak, dan ‘Aisyah radhiyallahu 'anha mendengarkannya, beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:”Bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, yaitu: para Nabi, para shidiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Ya Allah kekasih Yang Maha Tinggi.”(Shahih Bukhari, bab Sakitnya Nabi dan bab Petkataan terakhir yang diucapkan Nabi II/638,639. 640,641). Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya berjumpa dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
Kejadian ini berlangsung pada saat waktu dhuha sedang panas-panasnya, yaitu pada hari senin 12 Rabi’ul awwal tahun 11 hijriyah, umur beliau saat itu telah mencapai 63 tahun lebih empat hari.

Puncak Kesedihan Para Sahabat

 
Tersebarlah berita yang menyedihkan itu, langit dan penjuru kota Madinah pun menjadi kelabu. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:”Aku tidak mendapatkan hari yang lebih indah dan lebih bercahaya dari pada hari kala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memasuki kota Madinah, dan aku tidak pernah mendapatkan hari yang lebih buruk dan lebih gelap dari pada hari ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Misykatul Mashabih II/547)
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Fathimah radhiyallahu 'anha berkata:”Wahai ayahku yang telah memenuhi panggilan Tuhannya, wahai ayahku yang Surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya, wahai ayahku, kepada Jibril 'alaihissalam kami mengadukan kematian ini.”(Shahih al-Bukhari bab Sakitnya Nabi II/641)

»»  Lanjutkan Baca...

Detik-Detik wafatnya rasul Bag 2

DETIK-DETIK WAFATNYA RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi Wasallam (Empat Hari Sebelum Wafat)

Empat Hari Sebelum Wafat
 
Pada hari kamis, empat hari sebelum wafat, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:”Kemarilah kalian, aku akan tuliskan untuk kalian sebuah pesan yang kalian tidak akan tersesat setelahnya.”Pada saat itu ada beberapa sesepuh sahabat di rumah beliau, di antaranya adalah Umar radhiyallahu 'anhu. Umar radhiyallahu 'anhu berkata:”Sesungguhnya rasa sakit telah mempengaruhinya (kesadaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), kalian tela memiliki al-Quran, maka cukuplah al-Quran bagi kalian.” Maka terjadilah perselisihan dan pertengkaran di dalam rumah beliau, di antara mereka ada yang berkata:”Mendekatlah kalian, agar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuliskan wasiat untuk kalian.” Dan di antara mereka ada yang berkata sperti perkatan Umar radhiyallahu 'anhu. Ketika mereka semakin gaduh dan semakin ramai berselisih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata:”Pergilah kalian dariku! .(mutafaqun ‘alaihi)
Pada hari itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewasiatkan tiga perkara:
Pertama, untuk mengeluarkan orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab
Kedua, untuk memberikan penghargaan kepada para utusan (delegasi) sebagaimana yang telah beliau berikan kepada mereka sebeliumnya.
Ketiga, periwayat hadits ini lupa, barang kali wasiat tersebut adalah wasiat untuk berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah, atau wasiat tentang pengiriman tentara Usamah Bin Zaid radhiyallahu'anhuma, atau wasiatnya dalam sabda beliau: ”Jagalah shalat dan budak-budak kalian.”
Walaupun penyakit yang diderita Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat parah,akan tetapi beliau masih sempat menunaikan semua shalatnya bersama jama’ah para sahabatnya hingga hari itu, yakni hari kamis, empat hari sebelum wafat, dan pada hari itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menunaikan shalat maghrib bersama mereka, pada saat itu beliau membaca surat “al-Mursalat.” (HR. al-Bukhari dari Umu Fadhl Bab Sakitnya Nabi)
Pada waktu isya’, sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam smakin parah, hingga beliau tidak bisa ke masjid.’Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya:”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?”Kami menjawab:”Belum wahai Rasulullah, akan tetapi mereka menunggumu.” Beliau berkata:”Siapkanlah untukku air di bejana.” Kami pun melaksanakannya, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi, ketika hendak bangkit beliau pingsan, dan tak lama kemudian beliau sadar, dan bertanya:”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?.” Maka terjadilah untuk kedua dan ketiga kalinya apa yang terjadi sebelumnya, yakni mandi kemudian pingsan ketika hendak bangkit. Beliau menyuruh orang supaya Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menjadi imam. Pada hari-hari tersebut Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mulai shalat bersama mereka.(hadits mutafaq ‘alaihi)
Pada hari-hari itu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu telah menjadi imam sebanyak tujuh belas kali waktu shalat selama hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu shalat ‘isya pada hari kamis, shalat shubuh pada hari senin dan lima belas waktu shalat (yang lainnya) di antara hari-hari tersebut.
‘Aisyah radhiyallahu 'anha telah meminta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiga atau empat kali untuk memberhentikan AbuBakar menjadi imam, supaya orang-orang tidak merasa pesimis (merasa sial) dengannya. (untuk lebih jelasnya lihat Shahih al-Bukhari beserta Fathul Bari hadits ke 4445), akan tetapi beliau menolaknya dan berkata:”Sesungguhnya kalian (seperti) wanita-wanita yang merayu Yusuf 'alaihissalam, suruhlah Abu Bakar untuk tetap shalat bersama orang-orang (sebagai imam).(HR.al-Bukhari)
Dalam kisah ‘Aisyah ini juga terdapat dalil tentang kesungguhan dan semangat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam –di sela-sela wasiat beliau yang berharga yang disampaikan kepada para sahabat yang mulia, dan kepada umat Islam stelah mereka- dalam mengokohkan/menguatkan Aqidah Islam yang benar, padahal saat itu beliau sedang di ambang perpisahan dengan para sahabat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Tiga Hari Sebelum Wafat

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata:

سمعت النبي صلى الله عليه وسلم قبل موته بثلاث وهو يقول‏:‏ ‏(‏ألا لا يموت أحد منكم إلا وهو يحسن الظـن بالله‏)‏‏
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tiga hari sebelum wafatnya beliau:”Ketahuilah tidak boleh seseorang dari kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Betapa indahnya wasiat beliau ini, dan ini adalah sesuai dengan hadits qudsi, yang di dalamnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أنا عند ظن عبدي بي
Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepada-Ku” 

Dua Atau Sehari Sebelum Wafat
 
Pada hari sabtu atau hari ahad Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, merasakan penyakit pada dirinya berkurang, beliau keluar dengan dipapah dua orang untuk menunaikan shalat zhuhur, sedangkan ketika itu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tengah melakukan shalat bersama para sahabat (sebagai imam), ketika Abu Bakar radhiyallahu 'anhu melihat beliau ia bergerak mundur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat dengan kepalanya agar dia tidak mundur, beliau berkata:”Dudukanlah saya di samping Abu Bakar.” Kemudian mereka berdua mendudukkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam disebelah kiri, sehingga Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, mengikuti shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (bermakmum kepada beliau), dan para sahabat mendengar takbir beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Sehari Sebelum Wafat
 
Hari ahad, sehari sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau memerdekakan budak-budaknya, dan bersedekah dengan enam atau tujuh dinar yang dimilikinya serta memberikan senjata-senjatanya kepada kaum muslimin. Di malam harinya ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, membawa lampunya kepada seorang tetangga perempuan. ‘Aisyah berkata (kepada perempuan tersebut):”Berikanlah kepada kami sedikit dari minyak yang kamu miliki untuk lampu kami ini.”
Pada saat itu baju besi beliau masih tergadaikan kepada orang Yahudi dengan harga tiga puluh sha’ gandum. (HR. al-Bukhari)























»»  Lanjutkan Baca...

DETIK - DETIK WAFATNYA RASUL BAG 1

Detik-detik perpisahan
Pada saat dakwah telah sempurna dan Islam telah menguasai situasi, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan dengan orang-orang yang masih hidup mulai tampak terasa dalam perasaan beliau shallallahu 'alaihi wasallam, dan semakin jelas lagi dari perkataan-perkataan dan perbuatan beliau.
Pada bulan Ramadhan tahun 10 hijriyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri’tikaf selama dua puluh hari, yang mana pada tahun-tahun sebelumnnya beliau tidak pernah beri’tikaf kecuali sepuluh hari saja, dan malaikat Jibril membaca dan menyimak bacaan al-Quran beliau sebanyak dua kali (padahal di tahun-tahun sebelumnya hanya satu kali).
Pada haji wada’ beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (artinya):”Sesungguhnya aku tidak mengetahui, barang kali setelah tahun ini aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian dalam keadaan seperti ini selamanya.”Dan beliau juga berkata pada saat melempar jumrah ‘Aqabah:”Tunaikanlah manasik (haji) kalian sebagaimana aku menunaikannya, barang kali aku tidak akan menunaikan haji lagi setelah tahun ini.”Dan telah diturunkan kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada pertengahan hari tasyriq surat an-Nashr, sehingga beliau mengetahui bahwa hal itu adalah perpisahan, dan merupakan isyarat akan (dekatnya) kepergian beliau untuk selama-lamanya.
Di awal bulan shafar tahun 11 hijriyah, beliau keluar menuju Uhud, kemudian melakukan shalat untuk para Syuhada’ sebagai (ungkapan) perpisahan bagi orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati. Kemudian belaiu beranjak menuju mimbar untuk berpidato, beliau berkata:”Sesungguhnya aku akan mendahaului kalian dan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah sesungguhnya aku sekarang benar-benar melihat telagaku, dan telah diberikan kepadaku kunci-kunci perbendaharaan dunia atau kunci-kunci bumi, dan demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kalian akan melakukan kasyirikan sepeninggalku nanti, akan tetapi yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah kalian berlomba-lomba di dalam merebut kekayaan dunia.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Pada pertengahan suatu malam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuju (kuburan) Baqi’ untuk memohonkan ampunan bagi para penghuninya, Beliau berkata:”Semoga Keselamatan atas kalian, wahai ahli kubur, selamat atas apa yang kalian alami (pada saat ini) sebagaimana yang telah dialami orang-orang sebelumnya. Fitnah-fitnah (berbagai cobaan) telah datang bagai sepotong malam gelap gulita, yang silih berganti, yang datang terakhir lebih buruk dari pada yang sebelumnya.”Kemudian Beliau memberikan kabar gembira kepada mereka dengan mengucapkan:”Sesungguhnya kami akan menyusul kalian.”

Permulaan Sakit

Pada tanggall 28 atau 29 bulan shafar tahun 11 hijriyah (hari senin) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadiri penguburan jenazah seorang sahabat di Baqi’. Ketika kembali, di tengah perjalanan beliau merasakan pusing di kepala beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan panas mulai merambat pada sekujur tubuhnya, sampai-sampai para sahabat radhiyallahu 'anhum dapat merasakan pengaruh panas pada sorban yang beliau pakai.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama para Shahabat radhiyallahu 'anhum dalam keadaan sakit selama sebelas hari, sedangkan jumlah hari sakit beliau adalah 13 atau 14 hari.

Minggu Terakhir

Penyakit yang diderita Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, sampai-sampai Beliau bertanya kepada istri-istrinya,”Di mana (giliranku) besok? Di mana giliranku besok?” Mereka pun memahami maksudnya, sehingga beliau diizinkan untuk berada pada tempat yang beliau kehendaki. Kemudian beliau pergi ke tempat ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berjalan dengan diapit oleh al-Fadhl bin al-Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sedangkan kepala beliau shallallahu 'alaihi wasallam diikat dengan kain, dan beliau melangkahkan kedua kakinya hingga memasuki bilik ‘Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menghabiskan minggu terakhir dari deti-detik kehidupan beliau di sisi ‘Aisyah radhiyallahu 'anha.
‘Aisyah membaca mu’awwidzat (surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Naas) dan doa-doa yang dihafalnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian meniupkannya pada tubuh Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam dan mengusapkan tangannya dengan mengharapkan keberkahan dari hal tersebut.

Lima Hari Sebelum Wafat

Hari Rabu, lima hari sebelum wafat, demam menyerang seluruh tubuh beliau, hingga sakitnya pun semakin parah dan beliau pingsan karenanya. Ketika sadar belaiu berkata:”Siramkanlah kepadaku tujuh gayung air yang berasal dari sumur yang berbeda-beda, sehingga aku bisa keluar menemui para sahabat untuk menyampaikan nasehat kepada mereka.”Mereka mendudukkan beliau di sebuah bejana kemudian menyiramkan kepadanya air tersebut, hingga beliau berkata,”cukup !cukup!
Pada saat itu beliau merasa membaik, kemudian masuk ke dalam masjid dalam keadaan kepala diikat dengan sorban berwarna hitam, lalu duduk di atas mimbar. Beliau berkhutbah di hadapan para sahabatnya yang berkumpul di sekelilingnya, beliau berkata:”Semoga Allah atas orang-oranh yahiudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjjid.”Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan:”Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”(HR, Bukhari dan Muwatha’ Imam Malik) Kemudian beliau berkata:”Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”(Muwatha Imam Malik)
Dan pada saat itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan dirinya untuk diqishash (menerima balasan) dengan berkata:”Barangsiapa yang pernah aku pukul punggungnya, maka inilah punggungku pukulah ia, dan barangsiapa yang pernah aku lecehkan harga dirinya maka inilah harga diriku, lecehkanlah ia.”
Setelah itu beliau turun (dari mimbar) untuk melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian duduk di atas mimbar dan mengulangi perkataanya yang pertama, dan yang lainnya. Ada seseorang yang berkata:”Sesungguhnya engkau memiliki hutang kepadaku tiga dirham.”Beliau berkata:”Bayarkan kepadanya (hutangku) wahai Fadhl”.Lalu beliau berwasiat tentang tentang kaum Anshar:”Aku mewasiatkan kepada kalian tentang kaum Ansha, sesungguhnya mereka adalah kelompokku dan penolongku. Mereka benar-benar telah menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka, dan yang tersisa adalah hak-hak mereka. Maka terimalah kebaikan mereka dan maafkanlah kesalahan mereka.”Di dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:”Sesungguhnya manusia itu banyak dan kaum Anshar itu sedikit, sehingga mereka bagaikan garam pada makanan. Maka barangsiapa di antara kalian yang memegang t5ampuk kekuasaan yang di dalamnya ia merugikan seseorang atau menguntungkannya maka terimalah kebaikan dan maafkanlah (kekurangan mereka)(HR. Bukhari)
Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diminta untuk memilih satu dari dua hal oleh Allah, antara diberikan kepadanya segala macam kemewahan dunia dan kesengannya, atau diberikan kepadanya apa yang ada di sisi-Nya. Maka ia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”Abu Sa’id al-Khudri berkata:”Abu Bakar pun menangis, dan berkata (kepada Rasulullah):”Bapak ibu kami sebagai tebusan bagimu,” sehingga kami heran kepadanya. Para sahabat radhiyallahu 'anhum berkata:”Lihatlah orang tua ini (Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)! Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi oleh Allah kesempatan untuk memilih antara diberikan kepadanya kemewahan dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, malah dia (Abu Bakar) mengatakan:”Bapak ibu kami sebagai tebusan bagimu”.Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu sendirilah orang yang diberi kesempatan memilih, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu diantara kami.
Selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata:


إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَىَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً غَيْرَ رَبِّي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِد ِباب إِلاَّ سُدَّ، إِلاَّ باب أَبِي بَكْرٍ ‏"‏‏.
”Sesungguhnya orang yang paling banyak pemberiaannya dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, seandainya aku boleh menjadikan khalil (kekasih) selain Rabbku (Allah), niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalilku, hanya saja, yang ada adalah persaudaraan Islam dan kasih sayang karena Islam. Tidak satu pun dari pintu masjid melainkan ditutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR. Bukhari)









»»  Lanjutkan Baca...