Sepulangnya dari Al-Hudaibiyah, Rasulullah SAW menetap di Madinah selama bulan Dzulhijjah dan sebagian bulam Muharram. Pada akhir bulan Muharram, beliau berangkat ke Khaibar’.”

Dari Abu Muattib bin Amr ia berkata, ‘Ketika Rasulullah melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat –ketika itu aku bersama mereka–, ‘Berdirilah kalian!’. Rasulullah berkata, ‘Ya Allah, Rabb langit dan Rabb segala yang dinaunginya, Rabb bumi dan Rabb apa saja yang diangkutnya, Rabb setan dan apa saja yang dianutnya, Rabb angin dan Rabb apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepadaMu dari keburukan kampung ini, penduduknya, dan yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki per-kampungan”.

Dari Anas bin Malik yang berkata, “Jika Rasulullah hendak menyerang suatu kaum, beliau tidak menyerang mereka hingga pagi hari. Jika beliau mendengar adzan di satu tempat, beliau menahan diri tidak menyerbunya dan jika tidak mendengar adzan di satu tempat, beliau menyerangnya. Kami berhenti di Khaibar pada malam hari. Rasulullah bermalam hingga pagi hari, namun tidak mendengar adzan, kemudian beliau berjalan dan kami mengikutinya. Ketika itu, aku berjalan di belakang Abu Thalhah dan kakiku menyentuh kaki Rasulullah. Kita bertemu para pekerja di Khaibar yang berangkat kerja dengan sekop dan keranjang. Ketika mereka melihat Rasulullah dan pasukannya, mereka berkata, ‘Muhammad bersama pasukannya’. Mereka lari tunggang lang-gang, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Allah Maha Besar, hancurlah Khaibar. Jika kita tiba di halaman suatu kaum, sungguh buruk pagi hari kaum yang telah diperingatkan’.”

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah keluar dari Madinah menuju Khaibar, beliau melintasi Ishr* dan membangun masjid di sana, kemudian melintasi Ash-Shahba’**. Rasulullah dan pasukannya terus berjalan hingga menuruni Lembah Ar-Raji’ dan berhenti di tempat antara penduduk lembah tersebut dengan Ghathafan untuk menghalang-halangi mereka memberi bala bantuan kepada penduduk Khaibar, karena orang-orang Ghathafan pernah membantu orang-orang Khaibar dalam menghadapi beliau. Ketika orang-orang Ghathafan mendengar tempat beliau di Khaibar, mereka bersatu untuk menghadapi beliau dan keluar untuk membantu orang-orang Yahudi dalam menghadapi beliau. Ketika mereka baru berjalan beberapa meter, mereka mendengar suara di belakang mereka tepatnya di kebun dan rumah mereka. Mereka mengira kaum muslimin mengejar mereka. Oleh karena itu, mereka pulang dan menetap di rumah dan kebun mereka, serta membiarkan Rasulullah SAW mengha-dapi penduduk Khaibar”.

“Rasulullah SAW mendekati kebun-kebun secara berangsur-angsur dan menguasainya satu demi satu. Benteng penduduk Khaibar yang pertama kali beliau taklukkan ialah Benteng Na’im. Di benteng tersebut, Mahmud bin Maslamah terbunuh karena dilempar batu penggiling dari atasnya hingga ia meninggal dunia.

Benteng kedua yang beliau taklukkan adalah Benteng Al-Qamush, benteng Bani Abu Al-Huqaiq. Dari mereka, Rasulullah SAW mendapatkan tawanan-tawanan wanita, di antaranya Shafiyah binti Huyai bin Akhthab –istri Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abu Al-Huqaiq– dan dua putri pamannya dari jalur ayahnya. Beliau memilih Shafiyah binti Huyai bin Akhthab untuk diri beliau sendiri. Tadinya, Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi memin-ta Shafiyah binti Huyai bin Akhthab kepada Rasulullah SAW, namun karena beliau memilihnya untuk beliau sendiri, maka sebagai gantinya beliau memberikan dua putri paman Shafiyah dari jalur pamannya kepada Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi. Tawanan-tawanan wanita Khaibar dibagikan secara merata kepada kaum muslimin”.

“Setelah berhasil menaklukkan benteng-benteng Khaibar dan kebun-kebunnya, Rasulullah SAW meneruskan perjalanan hingga tiba di dua benteng, yaitu Al-Wathih dan As-Sulalim. Kedua benteng Khaibar itulah yang paling akhir ditaklukkan kaum muslimin”. Rasulullah mengepung mereka selama lebih kurang belasan hari.

‘Marhab si Yahudi keluar dari benteng Khaibar dengan senjata leng-kap. Ia berkata,
‘Khaibar tahu aku Marhab
Penghunus senjata dan pahlawan yang teruji
Terkadang aku menikam dan memukul
jika singa-singa datang dalam keadaan marah
Sesungguhnya tanah perlindunganku adalah tanah yang tidak boleh di dekati.”

“Setelah itu, Marhab berkata, ‘Siapa yang siap bertarung denganku?
‘Ka’ab bin Malik menjawab:
‘Khaibar tahu bahwa aku adalah Ka’ab
Penghilang duka, pemberani, dan kokoh
Jika perang telah dikobarkan maka dilanjutkan dengan perang berikutnya
Aku mempunyai pedang tajam seperti kilat
Aku injak kalian hingga sulit melepaskan diri
Kami beri balasan atau mendapatkan rampasan’
Kami terus maju pantang mundur.”


“Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang siap menghadapi Marhab?’. Muhammad bin Maslamah berkata, ‘Aku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku harus balas dendam, karena saudaraku terbunuh kemarin’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Berdirilah dan majulah kepadanya. Ya Allah, bantulah dia!’. Ketika masing-masing dari keduanya telah mendekat kepada la-wannya, tiba-tiba pohon tua di antara pohon Usyar masuk di antara ke-duanya. Masing-masing dari keduanya berlindung diri dari lawannya. Setiap kali salah satu dari keduanya berlindung di pohon tersebut, lawannya memotong pohon yang menghalanginya dengan pedang hingga masing-masing dari keduanya terlihat oleh lawannya, kemudian keduanya seperti satu orang yang berdiri dan di antara keduanya tidak ada lagi dahan pohon. Marhab menyerang Muhammad bin Maslamah dan memukulnya dengan pedang, namun Muhammad bin Maslamah terlindungi perisai kulit. Pedang Marhab masuk ke perisai kulit Muhammad bin Maslamah, kemudian Muhammad bin Maslamah memukul Marhab hingga tewas”.

“Setelah Marhab, keluarlah saudara Marhab, yaitu Yasir. Ia berkata, ‘Siapa berani bertarung denganku?’ Hisyam bin Urwah menduga bahwa Az-Zubair bin Awwam keluar untuk menghadapi Yasir. Ibu Az-Zubair, Shafiyah binti Abdul Muththalib, berkata, ‘Apakah ia akan membunuh anakku, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak, justru anak-mu yang akan membunuhnya, insya Allah’. Az-Zubair bin Al-Awwan keluar. Keduanya bertemu kemudian terjadilah pergulatan di antara keduanya dan di akhir pergulatan Az-Zubair bin Al-Awwam berhasil membunuh Tasir”.

Salamah bin Amr Al-Akwa’ yang berkata, ‘Rasulullah SAW mengirim Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dengan bendera beliau (Ibnu Hisyam berkata, “Bendera tersebut berwarna putih”) ke salah satu benteng Khaibar. Abu Bakar berjuang menaklukkannya, kemudian pulang tanpa hasil dan kelelahan. Esok harinya, Rasulullah mengirim Umar bin Khaththab RA. Umar bin Khaththab pun berjuang menaklukkan benteng tersebut, namun gagal dan juga mengalami kelelahan. Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda, ‘Esok pagi, bendera ini pasti akan aku berikan kepada orang yang mencintai Allah dan RasulNya. Allah memberikan pertolongan melalui kedua tangannya dan ia bukan orang yang melarikan diri’. Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib RA yang ketika itu sakit mata, kemudian meludahi matanya dan bersabda, ‘Ambillah bendera ini dan majulah dengannya hingga Allah memberi kemenangan kepadamu’. Demi Allah, ketika itu Ali bin Abi Thalib lari-lari kecil dengan nafas terengah-engah. Ketika itu, aku di belakang untuk mengikutinya hingga ia menancapkan bendera di batu yang ditumpuk di bawah benteng. Salah seorang Yahudi melihat ke arah Ali bin Abi Thalib dari atas benteng, kemudian bertanya, ‘Siapa engkau?’. Ali bin Abi Thalib menjawab, ‘Aku Ali bin Abi Thalib’. Orang Yahudi tersebut berkata, ‘Kalian menang, demi sesuatu yang diturunkan kepada Musa. Ali bin Abi Thalib baru pulang ketika berhasil menaklukkan benteng tersebut’.

“Rasulullah SAW mengepung penduduk Khaibar di kedua benteng mereka, yaitu Al-Wathih dan As-Sulalim. Ketika mereka yakin kalah, mereka meminta beliau mengusir mereka ke salah satu tempat dan tidak membunuh mereka. Beliau mengabulkan permintaan mereka. Ketika itu, beliau berhasil menguasai seluruh kebun penduduk Khaibar; As-Syiqq, Nathah, dan Al-Katibah. Beliau juga menguasai seluruh benteng mereka kecuali kedua benteng; Benteng Al-Wathih dan As-Sulalim. Ketika orang-orang Fadak mendengar apa yang diperbuat penduduk Khaibar, mereka mengutus wakil untuk menemui Rasulullah guna meminta beliau mengusir mereka ke satu tempat, tidak membunuh mereka, dan menyerahkan kekayaan mereka kepada beliau. Rasulullah mengabulkan permin-taan mereka. Di antara orang yang mondar-mandir ke tempat Rasulullah ialah Muhayyishah*** bin Mas’ud saudara Bani Haritsah. Penduduk Khaibar meminta Rasulullah membagi dua kebun mereka. Mereka berkata, ‘Kami lebih tahu tentang kebun tersebut dan lebih mampu memak-murkannya daripada kalian’. Akhirnya, Rasulullah SAW berdamai dengan mereka dengan syarat kebun mereka dibagi dua dengan beliau dan jika beliau ingin mengusir mereka maka beliau berhak melakukannya. Rasulullah juga berdamai dengan orang-orang Fadak seperti itu. Jadi, Khaibar adalah harta fa’i kaum muslimin, sedang Fadak milik khusus Rasulullah, karena mereka tidak menaklukkannya dengan pasukan berku-da atau pasukan pejalan kaki”.

“Ketika Rasulullah merasa kondisi telah nyaman, beliau dihadiahi kambing bakar oleh Zainab binti Al-Harits istri Sallam bin Misykam. Sebelum itu, Zainab bertanya kepada beliau, ‘Apa yang paling engkau sukai dari kambing, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Lengan’. Zainab membubuhkan racun sebanyak mungkin ke lengan kambing, meracuni semua daging kambing, dan menghidangkan kepada Rasulullah. Beliau mengambil lengan kambing, mengunyah sedikit daripadanya, tidak menelannya, dan memuntahkannya. Sedang Bisy bin Al-Barra’ bin Ma’rur yang ketika itu bersama beliau mengambil seperti beliau dan menelannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya tulang kambing tersebut memberitahuku bahwa ia beracun’. Beliau memanggil Zainab dan ia mengakui meracuni kambing bakar tersebut. Beliau bertanya kepada Zainab, ‘Kenapa engkau berbuat seperti itu?’. Zainab menjawab, ‘Engkau telah bertindak terhadap kaumku seperti engkau ketahui. Oleh karena itu, aku berkata, ‘Jika ia (Muhammad) seorang raja maka aku bisa membunuhnya dan jika seorang nabi maka ia akan diberitahu’. Rasu-lullah memaafkan Zainab, sedang Bisyr meninggal dunia karena makanan yang dimakannya”. Ketika Rasulullah meninggalkan Khaibar, beliau pergi menuju lembah Qurs, lalu beliau mengepung penduduknya bebera-pa malam, kemudian pergi meninggalkannya menuju Madinah.

“Rasulullah SAW menyelenggarakan pesta pernikahan dengan Shafiyah binti Huyai di Khaibar atau di salah satu jalan. Wanita yang merias Shafiyah binti Huyai untuk Rasulullah, menyisir rambutnya, dan merapikannya adalah Ummu Sulaim binti Milhan, ibu Anas bin Malik. Rasulullah bermalam dengan Shafiyah binti Huyai di kemah beliau, sedang Abu Ayyub Khalid bin Zaid saudara Bani An-Najjar semalam suntuk menghunus pedang menjaga dan mengelilingi kemah beliau. Keesokan harinya, Rasulullah melihat Abu Ayyub di sekitar kemah, kemudian bersabda, ‘Ada apa denganmu wahai Abu Ayyub?' Abu Ayyub menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku khawatir wanita ini (Shafiyah) men-celakakanmu, karena kita telah membunuh ayah, suami, dan kaumnya. Ia baru saja masuk Islam, jadi, aku khawatir ia mencelakakanmu’. Para ulama meyakini bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Ya Allah, jagalah Abu Ayyub, sebagaimana ia semalam suntuk menjagaku’.”

“Dalam perjalanan pulang dari Khaibar, Rasulullah SAW bersabda di salah satu jalan di akhir malam, ‘Siapa orang yang siap menunggu Shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’. Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu Shubuh untukmu, wahai Rasulullah’. Rasulullah berhenti diikuti kaum muslimin, kemudian tidur. Sedang Bilal, ia mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu Shubuh, namun rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur. Tidak ada yang membangunkan Rasulullah dan kaum muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Beliau bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Engkau berkata benar’. Rasulullah menuntun unta tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudhu diikuti kaum muslimin, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah shalat, dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin. Setelah salam, Rasulullah menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah SWT berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepadaKu’.”

“Ketika Rasulullah SAW menaklukkan Khaibar, beliau memberi Ibnu Luqaim Al-Absi hadiah yang di dalamnya terdapat ayam atau salah satu binatang jinak. Penaklukan Khaibar terjadi pada bulan Shafar.

Ibnu Luqaim Al-Absi berkata tentang Perang Khaibar,
“Benteng Nathah dilumpuhkan Rasul
dengan pasukan besar yang bersenjata lengkap
yang mempunyai pundak dan punggung
Benteng Nathah merasa kalah ketika berita kematiannya disebarkan
Di tengah-tengah mereka terdapat orang-orang Aslam dan Ghifar
Pasukan tersebut menyerbu Bani Amr bin Zur’ah pada suatu pagi
Dan benteng Asy-Syiqq, penduduknya merasa kegelapan di siang hari
Setiap benteng mempunyai kesibukan dari pasukan berkuda
Yang berasal dari Abdul Asyhal atau Bani An-Najjar
Dan kaum Muhajirin yang ciri-ciri mereka diketahui dari atas pelindung kepala mereka
Mereka tidak berniat melarikan diri
Sungguh aku tahu Muhammad pasti menang
Dan ia pasti menetap di sana hingga bulan Shafar
Orang-orang Yahudi membuka pelupuk matanya ke perang tersebut
Di bawah debu dengan pandangan yang gelap.”



CATATAN:

* Gunung yang terletak antara Madinah dan lembah Al-Far'u
** Nama sebuah tempat yang terletak di antara Madinah dan Khaibar
*** Silakan lihat kitab Jamharatun Ansaabul Arab karangan Ibnu Hazm halaman 341


0 comments:

Post a Comment

 
Siroh Nabawiyah © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top